Life Origin & Nature

Pengantar

Kehidupan;
Misteri sepanjang usianya . . . .

Kehidupan terlanjur digulirkan. Istilah kehidupan bisa digunakan untuk membedakan organisme dengan benda tak-hidup. Ciri utama makhluk hidup adalah metabolisme dan reproduksi (dengan cara apapun) sebagai nalurinya melestarikan diri/kelompoknya. Selain manusia dan hewan yang bisa digolongkan organisme tingkat tinggi, masih banyak organisme tingkat rendah lain yang juga memperlihatkan ciri-ciri tersebut.

Membicarakan kehidupan berarti menyinggung asal mulanya. Berkat kerja sama luar biasa dari ber-bagai lintas disiplin ilmu, didukung instrumen canggih untuk mengamati baik yang ada di muka bumi maupun di atas atmosfernya, kita mengetahui bahwa bumi yang lahir sekitar 4,6 miliar tahun lalu ternyata baru layak huni kurang lebih 1 miliar tahun berikutnya, atau 3,5 hingga 3,8 miliar tahun yang lampau.

Sebagaimana kelahiran bumi sebagai rumahnya, melalui proses tidak sederhana. Demikian halnya kehidupan. Dikenal sebagai evolusi kehidupan, organisme pertama sangat sederhana terus berkembang menjadi semakin kompleks dan ‘sempurna.’

Sampai di sini pembahasan tentang kehidupan menjadi semakin jauh lebih menarik. Ketika organisme ‘tertinggi’ di muka bumi ini mulai mempertanyakan ‘jati diri’, ‘asal muasal’, dan ‘tujuan’ nya berada di salah satu planet dari sekian banyak yang ada di sekian banyak galaksi di alam semesta ini, tidaklah aneh apabila kemudian muncul bermacam-macam teori.

Tubuh organisme apapun, termasuk manusia, rupanya tiada beda dari bintang-bintang atau benda langit lain di alam semesta ini. Secara materi, kita identik dengan debu-debu, baik yang ada di permukaan bumi maupun yang ‘melayang-layang’ di angkasa raya. Kemajuan yang diraih manusia sudah memungkinkan tindakan terhadap organisme dengan membedah sehingga terlihat otaknya, atau membelah dada hingga perut sehingga jelas bentuk jantung, paru-paru, lever, dan sebagainya. Namun demikian, masih tertinggal unsur tak kasat mata yang hanya bisa kita percayai keberadaannya sebagai unsur penyusun organisme tingkat tinggi ini, yakni akal pikiran, perasaan, dan ruh. Oleh karenya kemudian organ di dalam raga organisme pun dipercayai sekadar ‘kendaraan’ bagi sesuatu yang sifatnya lebih halus dan mulia ini.
Sekalinya menginjak ranah abstrak ini, mau tak mau terpikirkan oleh kita akan kematian. Esensi apakah yang membedakan kehidupan dari kematian? Kematian satu organisme terjadi setiap detik, bahkan lebih sering lagi. Apabila dipercayai apapun yang pernah dilahirkan maka kelak mengalami kematian. Bagaimana dengan bumi sebagai rumah organisme ini? Tentu saja suatu saat akan mati, sebagaimana bermiliar tahun lalu ia pernah dilahirkan.
Perjalanan panjang memahami kehidupan, sebagaimana kehidupan itu sendiri, belum tampak ujungnya. Namun ada sesuatu yang sepertinya mulai jelas, bahwa pemahaman ini ternyata tak cukup memuaskan ketika mengalir hanya di salah satu aliran pengetahuan dari beberapa yang ada. Pengetahuan materialisme sebagaimana dianut mayoritas pemikiran dunia barat menyisakan pertanyaan besar seputar unsur tak kasat mata. Sementara kepercayaan dunia timur dengan sisi metafisikanya, tentunya semakin memperkaya elemen kehidupan.

Akhir kata, setiap usaha memahami kehidupan, layak atas penghargaan setinggi-tingginya. Demikian pula karya berikut ini. Dengan semangat mengajak kita semua lebih menghargai kehidupan dalam segala bentuk dan isinya, dan disertai harapan agar kehidupan kita semakin bermakna serta bertujuan, marilah kita mulai mengikuti riwayat kehidupan yang sudah terlanjur bergulir ini . . .

Penerbit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *